Aku tinggal di
seoul, ibuku adalah seorang pembawa berita dan ayahku seorang manager. Aku
memiliki satu kakak perempuan young rim dan oppaku jae min. kami tinggal di
incheon. Aku bersekolah di incheon private highschool, sekolah terelit di
incheon dan top 5 sekolah terelit seluruh korea. Aku menyukai sejarah dan music
regge.
“Na-rim, ayo sarapan” teriak Umma dari dapur.
“Iya,
sebentar lagi Umma”
“annyeong haseyo” salamku riang. Aku mengambil
sepotong roti “Aku berangkat dulu, bye” aku melambai, lalu hilang dibalik
pintu.
“Hati-hati Na-rim” teriak ibuku.
Setiap hari aku menunggu bus yang akan
mengantarkan aku kesekolah walaupun keluarga kami berkecukupan aku tidak suka
diantar dengan mobil kesekolah itu pun kalau sudah darurat baru aku ikut. Aku
menunggu bus yang mengantarkanku kesekolah sambil mendengarkan lagunya Lucky
Dube. Artis regge berkulit hitam yang menurut pendapatku dia sangat keren
walaupun itu pendapatku sendiri, walaupun juga pada faktanya hanya aku siswi di
sekolahku yang tidak mengidolakan para pangeran seasia itu sebutanku
untuk DONG BANG SHIN KI, SUPER JUNIOR dan BIG BANG. 3 grup boyband
terbesar di Korea dan dicintai 99,9% cewek Korea dan hanya 1% yang tidak
menyukai dan tidak terlalu menyukai.
“Na-rim”aku
mendengar Yu-mi meneriakiku saat melintasi koridor sekolah.
Son Yu-mi
sahabatku sejak Elementery School. Yu-mi sendiri sangat periang dan sangat
berisik dengan wajah bulat dan rambut seleher yang membuatnya seperti buah
apel, hasilnya sekarang dia menjadi lebih parah semenjak dia jatuh cinta dengan
salah satu anggota Dong Bang Shin Ki, Kim Jae-joong. Semua berita dan gosip
tentang Dong Bang Shin Ki atau Jae-joong selalu dia dapat terlebih dahulu,
sepertinya dia punya bakat menjadi seorang reporter.
“Na-rim,
kita ke studio SBS setelah pulang sekolah, DBSK hari ini lagi tampil disana”
kata Yu-mi bersemangat saking semangatnya dia menggoncang-goncang badanku.
“Yu-mi,
Yu-mi badanku sakit kalau di buat begitu, mianhae hari ini aku lagi
sibuk jadi tidak bisa ikut”.
“mwo?
Itu tidak adil kau kan udah janji”
“Jangan merengek kayak anak kecil dong” kataku
sambil melepaskan tangan Yu-mi yang memegang kuat lenganku.
Kadang aku tidak
habis pikir kenapa Yu-mi mengidap “penyakit fans berlebihan tingkat berbahaya”.
Itu yang aku namakan pada semua siswi yang berlebihan terhadap idola mereka,
meskipun aku tahu mereka memang tampan tapi tidak tahu kenapa aku tidak terlalu
mengidolakan mereka.
“Yu-mi,
nanti saja aku janji lain kali pasti aku ikut” kataku meyakinkannya untuk terakhir
kali karena dia menerorku sampai akhir sekolah.
“Bye...
Na-rim” kata Yu-mi pelan sambil pergi dari hadapanku yang masih berdiri dipagar
sekolah sambil mengawasinya berlalu.
Malamnya setelah pulang dari kerja, aku memutuskan
untuk makan di luar karena aku sudah sangat lelah dengan pekerjaanku. Walaupun
orangtuaku berkecukupan mereka mewajibkan kami semua termasuk kedua kakakku
untuk mencari perkerjaan ketika masih sekolah. Kata Appa itu penting untuk
menambah pergaulan, wawasan, dan tahu bagaimana rasanya mencari uang sendiri.
Baru jam 8 malam ketika aku sampai di café
river, aku langsung memesan steak sapi dan segelas besar hot cokelat. Aku sudah
terbiasa makanan sendiri di luar ketika orangtuaku bekerja sampai larut
malam. Untungnya mereka sudah memberikan aku kartu atm jadi aku dapat
menggunakannya tanpa takut uangku akan habis karena mereka selalu menaruh
50.000 won di tabunganku ditambah gajiku sendiri yang aku dapatkan dari bekerja
di toko buku, aku punya uang yang cukup.
“Na-rim
sini, kau juga lagi makan disini?” sambar Yu-mi,
tumben dia tidak
bertingkah aktif padahal kalo kita bertemu dia selalu memelukku sampai tidak
bisa bernafas.
“apa
yang kau lakukan disini? ayo gabung dengan kami, aku kenalkan sama seseorang”
sambil menarik aku ke meja mereka.
“annyeong,
kalian juga disini senang bisa ketemu kalian semua” sapaku pada teman-teman
sekelasku, mereka balik menyapa.
“oh
iya, Na-rim kenalkan ini Dong Bang Shin Ki” kata Yu-mi bersemangat bercampur
bangga seperti memperkenalkan calon suaminya, dia memperkenalkan ke lima
anggota Dong Bang Shin Ki.
Kim Jae-joong cowok yang berwajah imut
dengan rambut yang dipotong seleher itu sekilas mukanya mirip cloud tokoh manga
di final fantasy the advent children. Disebelahnya Kim Yun-ho sepertinya dia
sangat dewasa. Disampingku namanya Park Yoo-chun mukanya cute dengan potongan
rambut aneh dan bermuka bulat. Disebelahnya adalah Shim Chang-min tampaknya dia
yang termuda dan mudah malu karena dia selalu menunduk dan bicaranya sedikit,
dia punya senyuman yang manis. Sedangkan yang terakhir Kim Jun-su mukanya
sangat bijaksana tapi ada cantiknya juga seperti perempuan.
Aku
menyapa dengan sopan,“annyeong, Han Na-rim imnida bangapsumnida” semuanya
tersenyum membuat separuh jiwaku melayang melihat wajah mereka yang perfect
itu.
“Senang
juga berkenalan denganmu” mereka menyalami aku satu persatu.
“Kau
juga teman mereka?” tanya Yoo-chun
“Iya,
kami semua sekelas dan Yu-mi adalah sahabatku”
Yoo-chun
mengangguk.
“Na-rim,
kenapa makan sini? kemana orangtuamu?” tanya Sun-hye.
“Orangtuaku
lagi lembur jadi aku ke sini karena dirumah aku sendiri” jawabku santai sambil
menyantap steak sapiku yang dari tadi aku pesan.
“Dimana
Oppa Jae-min dia tidak dirumah?” tanya Hyo-ri.
“Tidak,
dia lebih betah distudionya dari pada dirumah walaupun dia tahu. Dia punya
seorang adik perempuan yang harus khawatirkan” kataku dengan nada complain.
Semuanya tertawa mendengar ucapanku.
“Buat
apa dia mengkhawatirkan dirimu kalau dia sudah punya orang kepercayaan seperti
Goo Lee-sung untuk menjagamu” sambung Hyo-ri. Aku menatap satu-satu wajah
teman-temanku tampaknya mereka sangat senang sekali, mereka asyik mengobrol dan
berfoto ria bersama DBSK sampai mereka melupakan aku, bahkan sahabatku sendiri saja
lupa. Meskipun aku tidak terlalu menyukai DBSK tapi ketika mereka di depanku
aku merasa sangat canggung dan gugup.
“Kenapa
kau tidak ikut bercerita dan berfoto sama?” Cowok yang bernama Chang-min bertanya,
“apa kau merasa canggung atau kau tidak enak badan?”.
“Oh,
aku tidak apa-apa aku cuma binggung melihat sikap teman-temanku, aku tidak pernah
melihat mereka seperti ini” jawabku sambil meminum secangkir cokelat panas.
“Sepertinya
kau bukan orang Korea asli” Tanyanya sambil mendekat kepadaku.
Aku pun tersenyum
“Secara
teori sih iya, aku berasal dari Indonesia, tapi secara teknis aku
dibesarkan di sini”. Dia mengangguk mengerti.
“Hey,
kau”teriakku kepada cowok yang mukanya kayak cloud.
Jae-joong
berbalik memandangiku “pernahkah rambutmu di potong sangat pendek?” Tanyaku.
“ehm,,,aku
tidak suka gaya rambut seperti itu, jadi tidak pernah aku potong sangat pendek”
jawabnya sambil merapikan rambutnya yang tidak pernah berantakan.
“Ohh,
gitu” aku memandanginya seperti sedang meneliti soal-soal sekolahku.
“Memangnya
kenapa”.
“Tidak
apa-apa sih just ask”.
Aku terlambat jadi aku meminta oppa Jae min
mengantarku ke sekolah.
“Mianhae,
buat Oppa repot” kataku pelan saat didalam mobil.
“Kau
bicara apa sih, Aku kan kakakmu sudah semestinya jadi orang yang selalu kau
andalkan. iya kan” jawabnya sambil memegang kepalaku.
“Ne”
balasku bangga.
Kelasku sudah dimulai jadi aku menunggu di
kantin, lee sung belum menghubungiku kemana dia, hpnya tidak aktif jadi aku
meninggalkan voicemail
“Yoboseo
yojeum eotteoseyo, aku harap baik-baik saja dan jangan terlalu keras
belajar nanti bisa sakit, kalo tidak ada acara sabtu malam bisa kita kencan”.Kataku
di voice mailnya Lee-sung “Sudah dulu, saranghae bye”.
Aku berpacaran dengan lee sung dari setahun
yang lalu, oppa berpacaran dengan sepupunya jang hye gyo, waktu itu oppa
mengajakku ke resort muju disanalah aku bertemu dengan lee sung.
“Kenapa
tadi kau terlambat” tanya Yu-mi penasaran.
“Aku
tidak dengar alarmku jadi aku terlambat” jawabku nyengir.
“Dasar
kau. oh, iya nih lihat” Yu-mi menunjukan foto-foto dicafe yang sudah diprint
dan dia membuatnya didalam sebuah album yang dia buat sendiri.
“Aku
mau mempost ke blogku suatu kebanggaan sebagai seorang cassies kalo
bisa berfoto bareng DBSK” kata Yu-mi bangga, aku hanya menggangguk.
“Kau
ini aneh banget deh, apa sih yang kau harapkan, emangnya mereka akan suka kau
kalo kau buat begitu. nggak kan, untuk apa mencintai sesuatu yang tidak jelas
kayak begitu” kataku kesal karena kelakuanya itu.
“Yang
pentingkan cinta kita kepada mereka Rim, kau tahu kan aku ngefans banget sama
mereka, walaupun akhirnya mereka pacaran dengan orang lain tapi kita akan tetap
setia kepada mereka” jelas Yu-mi dengan bangganya.
“Mi.
kau ini, Sadarlah seseorang sedang mengharapkanmu jadi pacarnya jadi bangun dan
jalani hidupmu” Marahku sambil beranjak dari bangku kantin. Yu-mi yang masih
syok dengan kata-kataku hanya menatapku pergi tanpa berkata apapun. Aku
tersadar kalau aku sudah melintasi pagar sekolah dan berjalan dengan cepatnya
di trotoar. pikiranku melayang, tak dapat berpikir apa-apa.
“Babo...babo...babo
apa yang telah aku lakukan” aku mengigit bibirku terus “kenapa aku
memberitahukannya bodoh...bodoh kau Na-rim. Lagian kenapa aku harus marah
kepadanya, dia kan tidak tahu apa-apa tentang itu, bodoh bodoh” sambil menutup
mataku mencoba menahan air mata yang ingin keluar dari mataku.
“kau
tidak apa-apa”
“Apa”Spontan
aku berbalik pada asal suara.
“Aduuuhhh”teriakku.
Aku hampir terjatuh ketrotoar, untungnya cowok itu memegang erat pinggangku,
mataku masih tertutup bagian mengejutkannya adalah saat aku tahu siapa yang
mendekap pinggangku saat ini, hanya satu kata yang dapat aku pikirkan saat aku
membuka mata, oh my god itu satu-satunya kata yang terlintas diotakku
karna seluruh aliran darahku berhenti mengalir.
“noe
gwaenchanha” Tanyanya khawatir.
“ne”
jawabku yang masih bergelantungan dileher salah satu anggota DBSK kalo tidak
salah namanya Yoo-chun ingatku.
“Maaf,
menggagetkanmu” katanya sambil membetulkan posisi berdirinya.
“Sedang
apa kau disini, kau tidak sekolah?”
“Enak
aja” jawabku. “Kau sendiri lagi buat apa disekitar sini, Tidak ada kegiatan,
aku kira kalian lagi ke jepang”.
“Hari
ini tidak ada kegiatan jadi aku menggunjungi adikku Yoo-hwan yang tinggal dia
tinggal disini” sambil menunjuk rumah bercat biru didepanku.
“Jadi,
Weniriseyo” tanya Yoo-chun.
“Apa,
Aku” aku menunjuk diriku sendiri yang masih agak canggung didepannya. “Tidak ada,
aku hanya ingin keluar saja” kataku asal sambil menggigit bibir.
“Jadi
kau bolos?”tuding Yoo-chun santai. Aku terdiam “Sekarang kau mau kemana”aku
yang masih sedikit syok jadi masih belum berpikir akan mau kemana. Aku
menggeleng pelan, dia tersenyum sambil memandangku, tiba-tiba saja dia menarik
lenganku dan membuka pintu mobilnya menyuruh aku masuk.
Dia bercerita banyak tentang konser yang
akan mereka lakukan di Budokan, Jepang 2 bulan lagi, tampaknya dia sangat
bersemangat, aku-pun mendengar dengan seksama. Meskipun baru pertama kali
mendengar berita itu. Aku melihat Lee sung memeluk seorang cewek di kawasan Myeongdong,
wajahku panas dan aku mulai menangis. Aku menelponnya tapi tetap tidak aktif.
“Yeogisewo
juseyo” kataku tiba-tiba.
“wae”
“Please
stop your car now” bentakku dengan suara yang bergetar karena menahan air
mata.
“Kau
kenapa” kata Yoo-chun.
“Mianhae,
thanks for your ride”. Aku keluar dan berlari secepat aku bisa, tanpa
berpikir apapun. Hanya berlari dengan air mata yang membasahi pipiku, kenapa
aku harus marah padanya padahal dia tidak tahu apa-apa aku merasa sangat
bersalah sekarang. Itu Jung Eun tapi kenapa mereka terlihat mesra seperti itu.
Ketika melihat semua itu hatiku seperti bertumpuk ribuan air yang membuat aku
sesak. Kenapa dia melakukan ini kepadaku. Satu pertanyaan yang pasti kenapa aku
yang harus dia khianati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar