Senin, 04 Maret 2013

Proud Of Love Chapter 1



Aku tinggal di seoul, ibuku adalah seorang pembawa berita dan ayahku seorang manager. Aku memiliki satu kakak perempuan young rim dan oppaku jae min. kami tinggal di incheon. Aku bersekolah di incheon private highschool, sekolah terelit di incheon dan top 5 sekolah terelit seluruh korea. Aku menyukai sejarah dan music regge.
             “Na-rim, ayo sarapan” teriak Umma dari dapur.
            “Iya, sebentar lagi Umma”    
             “annyeong haseyo” salamku riang. Aku mengambil sepotong roti “Aku berangkat dulu, bye”  aku melambai, lalu hilang dibalik pintu.
             “Hati-hati Na-rim” teriak ibuku.

     Setiap hari aku menunggu bus yang akan mengantarkan aku kesekolah walaupun keluarga kami berkecukupan aku tidak suka diantar dengan mobil kesekolah itu pun kalau sudah darurat baru aku ikut. Aku menunggu bus yang mengantarkanku kesekolah sambil mendengarkan lagunya Lucky Dube. Artis regge berkulit hitam yang menurut pendapatku dia sangat keren walaupun itu pendapatku sendiri, walaupun juga pada faktanya hanya aku siswi di sekolahku yang tidak mengidolakan para pangeran seasia itu sebutanku untuk  DONG BANG SHIN KI, SUPER JUNIOR dan BIG BANG. 3 grup boyband terbesar di Korea dan dicintai 99,9% cewek Korea dan hanya 1% yang tidak menyukai dan tidak terlalu menyukai.

            “Na-rim”aku mendengar Yu-mi meneriakiku saat melintasi koridor sekolah.
Son Yu-mi sahabatku sejak Elementery School. Yu-mi sendiri sangat periang dan sangat berisik dengan wajah bulat dan rambut seleher yang membuatnya seperti buah apel, hasilnya sekarang dia menjadi lebih parah semenjak dia jatuh cinta dengan salah satu anggota Dong Bang Shin Ki, Kim Jae-joong. Semua berita dan gosip tentang Dong Bang Shin Ki atau Jae-joong selalu dia dapat terlebih dahulu, sepertinya dia punya bakat menjadi seorang reporter.
            “Na-rim, kita ke studio SBS setelah pulang sekolah, DBSK hari ini lagi tampil disana” kata Yu-mi bersemangat saking semangatnya dia menggoncang-goncang badanku.
            “Yu-mi, Yu-mi badanku sakit kalau di buat begitu, mianhae hari ini aku lagi sibuk jadi tidak bisa ikut”.
            mwo? Itu tidak adil kau kan udah janji”
             “Jangan merengek kayak anak kecil dong” kataku sambil melepaskan tangan Yu-mi yang memegang kuat lenganku.
Kadang aku tidak habis pikir kenapa Yu-mi mengidap “penyakit fans berlebihan tingkat berbahaya”. Itu yang aku namakan pada semua siswi yang berlebihan terhadap idola mereka, meskipun aku tahu mereka memang tampan tapi tidak tahu kenapa aku tidak terlalu mengidolakan mereka.
            “Yu-mi, nanti saja aku janji lain kali pasti aku ikut” kataku meyakinkannya untuk terakhir kali karena dia menerorku sampai akhir sekolah.
            Bye... Na-rim” kata Yu-mi pelan sambil pergi dari hadapanku yang masih berdiri dipagar sekolah sambil mengawasinya berlalu.


     Malamnya setelah pulang dari kerja, aku memutuskan untuk makan di luar karena aku sudah sangat lelah dengan pekerjaanku. Walaupun orangtuaku berkecukupan mereka mewajibkan kami semua termasuk kedua kakakku untuk mencari perkerjaan ketika masih sekolah. Kata Appa itu penting untuk menambah pergaulan, wawasan, dan tahu bagaimana rasanya mencari uang sendiri.
     Baru jam 8 malam ketika aku sampai di cafĂ© river, aku langsung memesan steak sapi dan segelas besar hot cokelat. Aku sudah terbiasa  makanan sendiri di luar ketika orangtuaku bekerja sampai larut malam. Untungnya mereka sudah memberikan aku kartu atm jadi aku dapat menggunakannya tanpa takut uangku akan habis karena mereka selalu menaruh 50.000 won di tabunganku ditambah gajiku sendiri yang aku dapatkan dari bekerja di toko buku, aku punya uang yang cukup.
            “Na-rim sini, kau juga lagi makan disini?” sambar Yu-mi,
tumben dia tidak bertingkah aktif padahal kalo kita bertemu dia selalu memelukku sampai tidak bisa bernafas.
            “apa yang kau lakukan disini? ayo gabung dengan kami, aku kenalkan sama seseorang” sambil menarik aku ke meja mereka.
            “annyeong, kalian juga disini senang bisa ketemu kalian semua” sapaku pada teman-teman sekelasku, mereka balik menyapa.
            “oh iya, Na-rim kenalkan ini Dong Bang Shin Ki” kata Yu-mi bersemangat bercampur bangga seperti memperkenalkan calon suaminya, dia memperkenalkan ke lima anggota Dong Bang Shin Ki.
     Kim Jae-joong cowok yang berwajah imut dengan rambut yang dipotong seleher itu sekilas mukanya mirip cloud tokoh manga di final fantasy the advent children. Disebelahnya Kim Yun-ho sepertinya dia sangat dewasa. Disampingku namanya Park Yoo-chun mukanya cute dengan potongan rambut aneh dan bermuka bulat. Disebelahnya adalah Shim Chang-min tampaknya dia yang termuda dan mudah malu karena dia selalu menunduk dan bicaranya sedikit, dia punya senyuman yang manis. Sedangkan yang terakhir Kim Jun-su mukanya sangat bijaksana tapi ada cantiknya juga seperti perempuan.
            Aku menyapa dengan sopan,“annyeong, Han Na-rim imnida bangapsumnida” semuanya tersenyum membuat separuh jiwaku melayang melihat wajah mereka yang perfect itu.
            “Senang juga berkenalan denganmu” mereka menyalami aku satu persatu.
            “Kau juga teman mereka?” tanya Yoo-chun
            “Iya, kami semua sekelas dan Yu-mi adalah sahabatku”
Yoo-chun mengangguk.
            “Na-rim, kenapa makan sini? kemana orangtuamu?” tanya Sun-hye.
            “Orangtuaku lagi lembur jadi aku ke sini karena dirumah aku sendiri” jawabku santai sambil menyantap steak sapiku yang dari tadi aku pesan.
            “Dimana Oppa Jae-min dia tidak dirumah?” tanya Hyo-ri.
            “Tidak, dia lebih betah distudionya dari pada dirumah walaupun dia tahu. Dia punya seorang adik perempuan yang harus khawatirkan” kataku dengan nada complain.
     Semuanya tertawa mendengar ucapanku.
            “Buat apa dia mengkhawatirkan dirimu kalau dia sudah punya orang kepercayaan seperti Goo Lee-sung untuk menjagamu” sambung Hyo-ri. Aku menatap satu-satu wajah teman-temanku tampaknya mereka sangat senang sekali, mereka asyik mengobrol dan berfoto ria bersama DBSK sampai mereka melupakan aku, bahkan sahabatku sendiri saja lupa. Meskipun aku tidak terlalu menyukai DBSK tapi ketika mereka di depanku aku merasa sangat canggung dan gugup.
            “Kenapa kau tidak ikut bercerita dan berfoto sama?” Cowok yang bernama Chang-min bertanya, “apa kau merasa canggung atau kau tidak enak badan?”.
            “Oh, aku tidak apa-apa aku cuma binggung melihat sikap teman-temanku, aku tidak pernah melihat mereka seperti ini” jawabku sambil meminum secangkir cokelat panas.
            “Sepertinya kau bukan orang Korea asli” Tanyanya sambil mendekat kepadaku.
   Aku pun tersenyum
            “Secara teori sih iya, aku berasal dari Indonesia, tapi secara teknis  aku  dibesarkan di sini”. Dia mengangguk mengerti.
            “Hey, kau”teriakku kepada cowok yang mukanya kayak cloud.
   Jae-joong berbalik memandangiku “pernahkah rambutmu di potong sangat pendek?” Tanyaku.
            “ehm,,,aku tidak suka gaya rambut seperti itu, jadi tidak pernah aku potong sangat pendek” jawabnya sambil merapikan rambutnya yang tidak pernah berantakan.
            “Ohh, gitu” aku memandanginya seperti sedang meneliti soal-soal sekolahku.
            “Memangnya kenapa”.
            “Tidak apa-apa sih just ask”.


   Aku terlambat jadi aku meminta oppa Jae min mengantarku ke sekolah.
            Mianhae, buat Oppa repot” kataku pelan saat didalam mobil.
            “Kau bicara apa sih, Aku kan kakakmu sudah semestinya jadi orang yang selalu kau andalkan. iya kan” jawabnya sambil memegang kepalaku.
            Ne” balasku bangga.

   Kelasku sudah dimulai jadi aku menunggu di kantin, lee sung belum menghubungiku kemana dia, hpnya tidak aktif jadi aku meninggalkan voicemail
            Yoboseo yojeum eotteoseyo, aku harap baik-baik saja dan jangan terlalu keras belajar nanti bisa sakit, kalo tidak ada acara sabtu malam bisa kita kencan”.Kataku di voice mailnya Lee-sung “Sudah dulu, saranghae bye”.
   Aku berpacaran dengan lee sung dari setahun yang lalu, oppa berpacaran dengan sepupunya jang hye gyo, waktu itu oppa mengajakku ke resort muju disanalah aku bertemu dengan lee sung.
            “Kenapa tadi kau terlambat” tanya Yu-mi penasaran.
            “Aku tidak dengar alarmku jadi aku terlambat” jawabku nyengir.
            “Dasar kau. oh, iya nih lihat” Yu-mi menunjukan foto-foto dicafe yang sudah diprint dan dia  membuatnya didalam sebuah album yang dia buat sendiri.
            “Aku mau mempost ke blogku suatu kebanggaan sebagai seorang cassies kalo bisa berfoto bareng DBSK” kata Yu-mi bangga, aku hanya menggangguk.
            “Kau ini aneh banget deh, apa sih yang kau harapkan, emangnya mereka akan suka kau kalo kau buat begitu. nggak kan, untuk apa mencintai sesuatu yang tidak jelas kayak begitu” kataku kesal karena kelakuanya itu.
            “Yang pentingkan cinta kita kepada mereka Rim, kau tahu kan aku ngefans banget sama mereka, walaupun akhirnya mereka pacaran dengan orang lain tapi kita akan tetap setia kepada mereka” jelas Yu-mi dengan bangganya.
            “Mi. kau ini, Sadarlah seseorang sedang mengharapkanmu jadi pacarnya jadi bangun dan jalani hidupmu” Marahku sambil beranjak dari bangku kantin. Yu-mi yang masih syok dengan kata-kataku hanya menatapku pergi tanpa berkata apapun. Aku tersadar kalau aku sudah melintasi pagar sekolah dan berjalan dengan cepatnya di trotoar. pikiranku melayang, tak dapat berpikir apa-apa.
            Babo...babo...babo apa yang telah aku lakukan” aku mengigit bibirku terus “kenapa aku memberitahukannya bodoh...bodoh kau Na-rim. Lagian kenapa aku harus marah kepadanya, dia kan tidak tahu apa-apa tentang itu, bodoh bodoh” sambil menutup mataku mencoba menahan air mata yang ingin keluar dari mataku.
            “kau tidak apa-apa”
            “Apa”Spontan aku berbalik pada asal suara.
            “Aduuuhhh”teriakku. Aku hampir terjatuh ketrotoar, untungnya cowok itu memegang erat pinggangku, mataku masih tertutup bagian mengejutkannya adalah saat aku tahu siapa yang mendekap pinggangku saat ini, hanya satu kata yang dapat aku pikirkan saat aku membuka mata, oh my god itu satu-satunya kata yang terlintas diotakku karna seluruh aliran darahku berhenti mengalir.
            noe gwaenchanha” Tanyanya khawatir.
            ne” jawabku yang masih bergelantungan dileher salah satu anggota DBSK kalo tidak salah namanya Yoo-chun ingatku.
            “Maaf, menggagetkanmu” katanya sambil membetulkan posisi berdirinya.
            “Sedang apa kau disini, kau tidak sekolah?”
            “Enak aja” jawabku. “Kau sendiri lagi buat apa disekitar sini, Tidak ada kegiatan, aku kira kalian lagi ke jepang”.
            “Hari ini tidak ada kegiatan jadi aku menggunjungi adikku Yoo-hwan yang tinggal dia tinggal disini” sambil menunjuk rumah bercat biru didepanku.
            “Jadi, Weniriseyo” tanya Yoo-chun.
            “Apa, Aku” aku menunjuk diriku sendiri yang masih agak canggung didepannya. “Tidak ada, aku hanya ingin keluar saja” kataku asal sambil menggigit bibir.
            “Jadi kau bolos?”tuding Yoo-chun santai. Aku terdiam “Sekarang kau mau kemana”aku yang masih sedikit syok jadi masih belum berpikir akan mau  kemana. Aku menggeleng pelan, dia tersenyum sambil memandangku, tiba-tiba saja dia menarik lenganku dan membuka pintu mobilnya menyuruh aku masuk.
   Dia bercerita banyak tentang konser yang akan mereka lakukan di Budokan, Jepang 2 bulan lagi, tampaknya dia sangat bersemangat, aku-pun mendengar dengan seksama. Meskipun baru  pertama kali mendengar berita itu. Aku melihat Lee sung memeluk seorang cewek di kawasan Myeongdong, wajahku panas dan aku mulai menangis. Aku menelponnya tapi tetap tidak aktif.
            Yeogisewo juseyo” kataku tiba-tiba. 
            wae
            Please stop your car now” bentakku dengan suara yang bergetar karena menahan air mata.
            “Kau kenapa” kata Yoo-chun.
            “Mianhae, thanks for your ride”. Aku keluar dan berlari secepat aku bisa, tanpa berpikir apapun. Hanya berlari dengan air mata yang membasahi pipiku, kenapa aku harus marah padanya padahal dia tidak tahu apa-apa aku merasa sangat bersalah sekarang. Itu Jung Eun tapi kenapa mereka terlihat mesra seperti itu. Ketika melihat semua itu hatiku seperti bertumpuk ribuan air yang membuat aku sesak. Kenapa dia melakukan ini kepadaku. Satu pertanyaan yang pasti kenapa aku yang harus dia khianati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar