Senin, 04 Maret 2013

Beautiful Monster Part 2



        Livie bangun dengan kepala yang berat, tubuhnya dipenuhi keringat mimpi buruk yang sama datang lagi memutar adegan kejar-kejaran dihutan, tubuhnya berlumuran darah dalam balutan gaun putih bersih yang sudah dipenuhi noda darah. Hujan deras dan petir mengaburkan sosok seorang cowok yang mengejarnya dibelakang. Livie yakin hampir bisa mengecap rasa darah dalam mimpinya saat ini.


        “Putri tidur kau ingin kita terlambat lagi yah” liv mengetuk pintu kamarku tidak sabar, aku sedikit mengerang lalu berjalan terseok seok kearah pintu. Liv berdiri dihadapanya masih menggunakan piyama pink berbentuk hati rambutnya tergereai indah. Livie menyipitkan matanya sedkiti liv masih tetap terlihat kabur.
 “Ayo cepat, aku tidak ingin terlambat hari ini” liv menyeret livie kekamar mandi.
Aku berusaha mengumpulkan kesadaranku lagi, “liv tenanglah kita tidak akan terlambat tunggu aku lima menit lagi” kataku sambil mengambil kacamata di dekat wastafel. Bunyi pintu tertutup dibelakangnya sejenak aku menatap wajahku sendiri dicermin super besar. Mom menyarankan untuk menggunakan kontak lans tapi saat mencoba pertama kali aku merasa tidak nyaman, lalu dad datang dengan ide gilanya untuk operasi laser agar minusku menghilang sudah pasti aku langsung menolaknya.

        Lima menit kemudian aku sudah keluar dari kamar, menyusuri tangga dengan buku sastra jane austen ditangan kiriku liv sedang menikmati sarapan bergizinya yaitu sebuah apel dan jus jeruk. Dia menolak minum susu sejak masuk junior high school dan sekarang diet ketat sudah menjadi rutinitasnya.
 “Ya ampun livie aku pikir kau hanya bercanda saat mengatakan lima menit, apa kau tidak pernah make up” omel liv sambil menggigit sepotong apel. Dia menelitiku gayaku tshirt putih, celana jeans pudar dan sepatu booth cokelat. Lalu sebuah keluhan pasrah keluar dari bibirnya yang berwarna raspberry hari ini.
 “Livie kesini” perintahnya saat aku lagi mengoleskan selai cokelat kerotiku, albert mengawasi kami dari depan pintu dapur. Liv mengeluarkan mascara dan alat-alat make up lainnya.
 “Lupakan saja untuk meriasku aku tetap tidak bergeming dari tempatku lalu dengan kesal liv berdiri menatapku dengan tatapan memerintah.
 “dengan gayamu yang mengenaskan ini kau pikir aku akan tenang, maaf adikku tercinta tidak hari ini”. Liv membalikan tubuhku kearahnya,  dia memoleskan sedikit bedak tipis, menyuruhku menutup mata agar dia bisa menyapu mascara dibulu mataku lalu menambahkan sedikit lipgloss berwarna raspberry kebibirku dan senyuman puas terlihat diwajahnya. Kadang aku berpikir kita berdua saling menyayangi dan tapi dengan porsi yang berbeda. Aku ingat masa kecil kami liv selalu menjagaku dia sangat berperan sebagai kakak yang baik sampai saat kami masuk junior high school, seakan dia tidak ingin terbeban dengan tanggung jawab itu lagi.
 “Well Olivia Cullen aku baru sadar kau memiliki bulu mata yang lebih lentik dariku dan mata yang bulat indah” bibir liv sedikit mengerucut tidak terima lalu ditariknya ikat rambutku.
 “Hei liv kembalikan ikat rambutku” liv sudah melemparnya disudut ruangan tidak peduli, dengan tangan yang terancung dia mengancam
 “jangan berani mengikat rambutmu lagi, kau tahu betapa bosannya melihatmu mengikat rambutmu itu” lalu dia mengambil tasnya, kita berangkat sekarang kau makan saja dimobil.

***
 Livie berjalan disebelahku menyeberangi halaman parkir banyak yang menengok dua kali kearah livie, setidaknya begitu perkiraanku. Sekarang kami terlihat lebih mirip tentunya aku mencatat sesekali untuk menyuruh livie menggunakan baju yang sama denganku lainkali. Bree dan tina berdiri syok diantara locker mereka, aku hanya memutar bola mata. Sudut mataku melihat reyes berdiri kaku disamping lockernya menatap lurus kearah livie, ya ampun
Aku menggandeng livie lalu berjalan kearah reyes.
 “hei, reyes” aku tersenyum semanis mungkin.
 “Hei” balas reyes dia menutup lockernya hari ini dia memakai kemeja kotak-kotak berwarna hitam, celana jeans sedikit longgar rambutnya sedikit acak-acakan.
 “aku ingin berterima kasih karna kemarin kau sudah menyelamatkan livie, dia sudah menceritakan pertemuan kemarin kalian” aku merasakan tangan livie menegang tubuhnya sedikit menggigil.
reyes tersenyum, tapi ada yang aneh senyumannya tidak pas dengan matanya yang seakan ingin melahap livie utuh.
 “Liv,aku harus pergi sekarang” livie seakan tidak nyaman, dia terlihat gugup dengan tergesa-gesah livie meninggalkan aku dan reyes.
Tatapan reyes akhirnya kembali padaku, “kau, apa kau yang melakukannya” desisan reyes bulu tanganku meremang, aku terpaku binggung.  
 “Jangan merubah livie, aku tidak suka” suaranya berubah lebih menakutkan untung saja travis melihat kami dan langsung menyela.
 “Liv apakah semuanya baik-baik saja” perasaan lega melingkupiku, dengan reflek aku melingkar tanganku kelengan travis. Tatapan reyes masih tertuju padaku beberapa detik lalu dia berkata tenang kearah travis.
 “semuanya baik-baik saja” Reyes melewati kami begitu saja.
Baru bebarapa lama aku baru sadar tanganku yang melingakar dilengan travis, buru-buru aku melepas tanganku. bree dan tina menghampiriku alis bree terangkat.
Aku menatap bree angkuh “thanks travis tapi aku baik-baik saja” kataku meyakinkan, travis membuka mulut ingin mengatakan sesuatu tapi aku member isyarat untuk diam lalu aku pergi begitu saja. aku masih takut dengan tatapan reyes tadi. dia mengancamku demi tuhan.

***
 “Livie” bisik Nicole, kami sedang menonton adengan Juliet bunuh diri ketika menemukan romeo telah mati. “cowok arah jam satu”. Aku balik penasaran dalam ruang kelas yang sudah gelap, pantulan dari cahaya tv membuat siluet reyes tampak misterius dia sendiri di bagian belakang, ada sebuah alarm dalam diriku yang berbunyi agar menghindarinya.
 “Itu reyes anak baru” Nicole mengangguk.
 “Kenapa dia menatapmu seperti itu, kau mengenalnya”
 “Entalah” aku mengangkat bahu “dia menolongku beberapa kali kemarin” aku sadar tatapan penasaran Nicole tapi aku tidak menggubrisnya. aku nonton kembali video kali ini romeo sudah bangkit dan mendapati Julie sudah meninggal disisinya aku mengerinyit lagi kata-kata reyes masih teringat jelas.

        Setelah jam sastra aku dan Nicole diminta membantu miss.heart mengoreksi essay anak kelas satu wajah Nicole masih penasaran.
 “Livie, kau tidak bisa membohongiku”
 “Apa” kami berjalan menaiki tangga lantai tiga
 “Kau hari ini bermake up, menguraikan rambutmu dan seorang cowok baru seksi menatapmu tanpa berkedip” tuduh Nicole bersemangat.
Aku meringis, “ini” aku menujuk wajahku “ulah liv dia menginvasiku diruang makan karna melihat aku menguncir kuda rambutku dan katanya dia sudah bosan melihatku begitu dan reyes dia hanya cowok yang menolongku saat kebiasaan tersandungku terjadi didepannya”. Aku menghilangkan bagian reyes hampir menciumku dikantin dan kata-kata mengerikannya.
Aku membentur dada seorang cowok, aku sedikit terpental kebelakang
 “Aduh, maaf aku tidak melihatmu,,” suaraku langsung seperti gumaman ketika reyes Lucien yang aku tabrak.
Seperti kemarin dia mengunciku dengan tatapannya, ada kemarahan, kekelaman dan kejahatan dimata almond yang sebelumnya aku anggap indah sekarang  terlihat berbahaya. Lalu tanpa berkata apapun reyes melewatiku begitu saja, Nicole terbengong dengan terbata-bata dia berkata.
 “L, kau paham apa yang aku pikirkan” aku mengangguk. Nicole pasti membayakan sosok mr.hyde dari novel sastra lama yang memiliki dua kepribadian, baik dan jahat aku bergidik membayangkan betapa jahatnya mr.hyde.

        Dari sudut koridor yang cukup jauh seseorang memandang cemas kearah livie, seharusnya ini tidak terjadi, dia tidak punya perasaan apapun pada cewek itu tapi kenapa saat melihat sisi lain dirinya menatap livie seakan ingin menguluti cewek itu hidup-hidup sebuah perasaan takut menjalari dirinya.

***
        Liv mondar-mandir disamping kantin kejadian tadi pagi menyita otaknya, tatapan menakutkan itu seakan berbeda dengan reyes yang kemarin. Itu terlalu jahat siapa dia sebenarnya reyes Lucien. Lalu aku menabrak seseorang dadanya yang bidang menbentuk tubuhku.
 “Hei, kau” ucapanku menguap ketika orang yang aku pikirkan berdiri dihadapanku.
 “Maaf ucap” reyes datar, liv mengerjap tidak percaya tadi pagi cowok ini baru saja mengancamnya tapi sekarang dia meminta maaf hanya karna menabrakku
 “Tidak apa-apa, kau mau kemana pulang sekolah nanti”.
Sejenak wajah datarnya berubah lalu kembali datar lagi “pulang kerumah saja”
 “Kau mau jalan ke squers ada tempat nongkrong yang ayik disana” aku berusaha menatap matanya tapi kali ini mata reyes tenang dan misterius, reyes masih terdiam “aku akan mengajak liv” tambahku ekspresinya berganti terkejut. Reyes tersenyum sedikit menampakan barisan gigi putih yang rapi.  “Hebat temui kami sepulang sekolah nanti di halaman parkir”.
Dengan kaku aku berbalik dan berjalan kesayap timur bangunan, berusaha agar tidak gugup. Sesuatu mengusik pikiran liv, ini bukan reyes yang sama alisnya tertaut binggung.
 “Liv” suara travis menyadarkan lamunanku, travis mc.kanzie gelandang andalan diteam football sekolah. Dia adalah bintang lapangan, dipuja seluruh cewek termasuk sahabatku sendiri bree tapi aku menolak cintanya, travis terus mengejarku hingga sekarang sikapnya selalu baik kepadaku. Selain itu dia sesungguhnya tidak bodoh seperti teman-temannya yang baik dia bisa mengerjakan tugas kimia dan menghafal rumus gemotri dengan baik.
 “Hei travis” dia mengikuti langkahku “apa kau ingin ke squers bersamaku kami akan mengadakan pesta disana” ajak travis.
Aku lalu berhenti berjalan berpikir sejenak sebenarnya aku benci jika bergabung bersama anak-anak football yang idot itu kecuali travis, tapi aku harus mengajak travis untuk mengawasi reyes. Dengan anggun aku menaruh tangan dipundak travis, tubuh travis menegang “sebenarnya aku ingin mengajakmu bergabung dengan kami di squers nanti, bersama anak-anak lain kau mau” ada binar bangga dimata travis seakan tidak percaya aku olivianna Cullen mengajaknya.
Travis membasahi bibrnya sejenak lalu menatap lurus kemataku “baiklah aku akan datang, tunggu aku diparkiran” travis melenggang pergi bersemangat sebelum aku sempat bilang aku akan bersama livie.
Aku mendekati ruang aula, hari ini mereka sudah mendekor  ruang aula untuk bowl nanti, selebaran sudah dibagikan dan 1 minggu lagi bowl akan diadakan, semalam mom sudah menelpon dan menanyakan apakah bajuku dan livie mau dipesan diparis karna mom dan dad lagi disana, tentu saja aku langsung mengiyakannya. Livie dan Nicole duduk dibagian duduk penonton sedang menggunting kertas warna warni yang dibentuk menyerupai bunga, aku berjalan kearah mereka.
 “Livie” panggilku dari bawah, livie mendongkak melihatku kaget begitu juga dengan Nicole, sangat jarang aku dan livie mengobrol disekolah. “Sebentar setelah pulang sekolah kita ke squers” nadaku lebih seperti memerintah.
 “Untuk apa”
 “Tentu saja untuk nongkrong disana, oh iya reyes memintamu datang livie” berbalik tegak kearahku ada tatapan ngeri dimatanya.
 “Aku,,”
 “Please” ucapku akhirnya livie menghela nafas
“baiklah”
aku tersenyum puas lalu aku melemparkannya kunci mobilku, “suruh reyes menyetir, aku akan bersama travis” aku tahu livie ingin protes tapi aku sudah duluan pergi.

***
        Semobil bersama reyes, dimobilnya liv yang benar saja. Liv pasti sudah gila. Demi tuhan, menatap mata reyes lebih dari dua detik saja sudah bisa membuatku menggigil apalagi bersamanya didalam mobil liv selama lebih dari lima belas menit, aku bergidik. Tanganku masih menggengam kunci mobil liv kaku.
 “Livie, kau tidak apa-apa”
 “Aku mengangguk”
 “Kau pucat livie, aku akan ke toilet sebenar”
Aku melangkah cepat kearah toilet yang terletak dibagian samping aula, alarm diriku berbunyi lagi memperingati untuk tidak pergi bersama reyes tiba-tiba sebuah tangan kuat menarik lengan kiriku ke lorong barat tempat penyimpanan.
Reyes menutup mulutku, agar aku tidak berteriak, dia mengisyaratkan untuk diam, aku mengangguk mengerti. Dia melepaskan tangannya dari mulutku, senyuman ngeri tersungging.
 “Apa yang kau lakukan” tanyaku sedikit histeris
 “Menunggumu”
 “Apa”
 “Kenapa kau menguraikan rambutmu” reyes mengusap rambut hitamku hati-hati memainkan ujung rambutku yang ikat, nafasku sedikit tercekat. Mata pembunuh itu terlihat, sebelumnya berwarna almond sekarang berwarna hitam pekat ruangan penyimpanan sedikit remang tapi aku yakin warna matanya hitam seperti rambutku, tangan reyes menyentuh pipiku tubuhku menggigil dia tersenyum jahat.
 “Tidak perlu takut padaku, angel. aku tidak ingin menyakitimu kakakmu itu sangat menyebalkan, dia membuat penampilanmu sepertinya yang murahan, aku tidak menyukainya”.
Sesaat ketakutanku menghilang terganti dengan perasaan untuk melindungi  “kalau kau menyakiti liv, aku tidak akan membiarkanmu” ucapku gemetar. Reyes masih terdiam seakan menikmati setiap sentuhannya dikulit pipiku.
 “Reyes aku,,,” lalu tatapan serius reyes terpaku padaku seperti sebuah sihir hitam yang melumpuhkan, aku hanya terdiam menggigil, lututku lemas tapi dengan enteng reyes melingkarkan tangannya di pinggangku agar tetap berdiri tegak.
Reyes mendekatkan bibirnya ketelingaku, hembusan nafasnya mengelitik telingaku kali ini bukan bau aftershave tapi wangi cendana dari tubuhnya “galen itu namaku” lalu dia mengecup leherku seakan menandai diriku. Aku menahan nafas lama sudah tiga menit yang lalu cowok bernama galen itu pergi tapi aku masih gemetaran olehnya auranya sangat menakutkan. Hpku berdering dengan susah payah dan tangan yang gemetaran aku menjawab.
 “Livie, kau dimana”
 “Aku,,”
 “Livie, kau kenapa”
 “Maaf, aku sudah keluar duluan untuk mencari liv”, bohongku
 “Kau yakin kau baik-baik saja” Suara Nicole khawatir
 “Iya, nicky aku akan segera kesana”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar