Livie bangun dengan kepala yang berat, tubuhnya
dipenuhi keringat mimpi buruk yang sama datang lagi memutar adegan
kejar-kejaran dihutan, tubuhnya berlumuran darah dalam balutan gaun putih
bersih yang sudah dipenuhi noda darah. Hujan deras dan petir mengaburkan sosok
seorang cowok yang mengejarnya dibelakang. Livie yakin hampir bisa mengecap
rasa darah dalam mimpinya saat ini.
“Putri
tidur kau ingin kita terlambat lagi yah” liv mengetuk pintu kamarku tidak
sabar, aku sedikit mengerang lalu berjalan terseok seok kearah pintu. Liv
berdiri dihadapanya masih menggunakan piyama pink berbentuk hati rambutnya
tergereai indah. Livie menyipitkan matanya sedkiti liv masih tetap terlihat
kabur.
“Ayo cepat, aku tidak ingin terlambat hari ini”
liv menyeret livie kekamar mandi.
Aku
berusaha mengumpulkan kesadaranku lagi, “liv tenanglah kita tidak akan
terlambat tunggu aku lima menit lagi” kataku sambil mengambil kacamata di dekat
wastafel. Bunyi pintu tertutup dibelakangnya sejenak aku menatap wajahku
sendiri dicermin super besar. Mom menyarankan untuk menggunakan kontak lans
tapi saat mencoba pertama kali aku merasa tidak nyaman, lalu dad datang dengan
ide gilanya untuk operasi laser agar minusku menghilang sudah pasti aku langsung
menolaknya.
Lima
menit kemudian aku sudah keluar dari kamar, menyusuri tangga dengan buku sastra
jane austen ditangan kiriku liv sedang menikmati sarapan bergizinya yaitu
sebuah apel dan jus jeruk. Dia menolak minum susu sejak masuk junior high
school dan sekarang diet ketat sudah menjadi rutinitasnya.
“Ya ampun livie aku pikir kau hanya bercanda
saat mengatakan lima menit, apa kau tidak pernah make up” omel liv sambil
menggigit sepotong apel. Dia menelitiku gayaku tshirt putih, celana jeans pudar
dan sepatu booth cokelat. Lalu sebuah keluhan pasrah keluar dari bibirnya yang
berwarna raspberry hari ini.
“Livie kesini” perintahnya saat aku lagi
mengoleskan selai cokelat kerotiku, albert mengawasi kami dari depan pintu
dapur. Liv mengeluarkan mascara dan alat-alat make up lainnya.
“Lupakan saja untuk meriasku aku tetap tidak
bergeming dari tempatku lalu dengan kesal liv berdiri menatapku dengan tatapan
memerintah.
“dengan gayamu yang mengenaskan ini kau pikir
aku akan tenang, maaf adikku tercinta tidak hari ini”. Liv membalikan tubuhku
kearahnya, dia memoleskan sedikit bedak
tipis, menyuruhku menutup mata agar dia bisa menyapu mascara dibulu mataku lalu
menambahkan sedikit lipgloss berwarna raspberry kebibirku dan senyuman puas
terlihat diwajahnya. Kadang aku berpikir kita berdua saling menyayangi dan tapi
dengan porsi yang berbeda. Aku ingat masa kecil kami liv selalu menjagaku dia
sangat berperan sebagai kakak yang baik sampai saat kami masuk junior high
school, seakan dia tidak ingin terbeban dengan tanggung jawab itu lagi.
“Well Olivia Cullen aku baru sadar kau memiliki
bulu mata yang lebih lentik dariku dan mata yang bulat indah” bibir liv sedikit
mengerucut tidak terima lalu ditariknya ikat rambutku.
“Hei liv kembalikan ikat rambutku” liv sudah
melemparnya disudut ruangan tidak peduli, dengan tangan yang terancung dia
mengancam
“jangan berani mengikat rambutmu lagi, kau
tahu betapa bosannya melihatmu mengikat rambutmu itu” lalu dia mengambil
tasnya, kita berangkat sekarang kau makan saja dimobil.
***
Livie berjalan disebelahku menyeberangi
halaman parkir banyak yang menengok dua kali kearah livie, setidaknya begitu
perkiraanku. Sekarang kami terlihat lebih mirip tentunya aku mencatat sesekali
untuk menyuruh livie menggunakan baju yang sama denganku lainkali. Bree dan
tina berdiri syok diantara locker mereka, aku hanya memutar bola mata. Sudut
mataku melihat reyes berdiri kaku disamping lockernya menatap lurus kearah
livie, ya ampun
Aku
menggandeng livie lalu berjalan kearah reyes.
“hei, reyes” aku tersenyum semanis mungkin.
“Hei” balas reyes dia menutup lockernya hari
ini dia memakai kemeja kotak-kotak berwarna hitam, celana jeans sedikit longgar
rambutnya sedikit acak-acakan.
“aku ingin berterima kasih karna kemarin kau
sudah menyelamatkan livie, dia sudah menceritakan pertemuan kemarin kalian” aku
merasakan tangan livie menegang tubuhnya sedikit menggigil.
reyes
tersenyum, tapi ada yang aneh senyumannya tidak pas dengan matanya yang seakan
ingin melahap livie utuh.
“Liv,aku harus pergi sekarang” livie seakan
tidak nyaman, dia terlihat gugup dengan tergesa-gesah livie meninggalkan aku
dan reyes.
Tatapan
reyes akhirnya kembali padaku, “kau, apa kau yang melakukannya” desisan reyes
bulu tanganku meremang, aku terpaku binggung.
“Jangan merubah livie, aku tidak suka”
suaranya berubah lebih menakutkan untung saja travis melihat kami dan langsung
menyela.
“Liv apakah semuanya baik-baik saja” perasaan
lega melingkupiku, dengan reflek aku melingkar tanganku kelengan travis. Tatapan
reyes masih tertuju padaku beberapa detik lalu dia berkata tenang kearah travis.
“semuanya baik-baik saja” Reyes melewati kami
begitu saja.
Baru
bebarapa lama aku baru sadar tanganku yang melingakar dilengan travis,
buru-buru aku melepas tanganku. bree dan tina menghampiriku alis bree terangkat.
Aku
menatap bree angkuh “thanks travis tapi aku baik-baik saja” kataku meyakinkan,
travis membuka mulut ingin mengatakan sesuatu tapi aku member isyarat untuk
diam lalu aku pergi begitu saja. aku masih takut dengan tatapan reyes tadi. dia
mengancamku demi tuhan.
***
“Livie” bisik Nicole, kami sedang menonton
adengan Juliet bunuh diri ketika menemukan romeo telah mati. “cowok arah jam
satu”. Aku balik penasaran dalam ruang kelas yang sudah gelap, pantulan dari
cahaya tv membuat siluet reyes tampak misterius dia sendiri di bagian belakang,
ada sebuah alarm dalam diriku yang berbunyi agar menghindarinya.
“Itu reyes anak baru” Nicole mengangguk.
“Kenapa dia menatapmu seperti itu, kau
mengenalnya”
“Entalah” aku mengangkat bahu “dia menolongku
beberapa kali kemarin” aku sadar tatapan penasaran Nicole tapi aku tidak
menggubrisnya. aku nonton kembali video kali ini romeo sudah bangkit dan
mendapati Julie sudah meninggal disisinya aku mengerinyit lagi kata-kata reyes
masih teringat jelas.
Setelah
jam sastra aku dan Nicole diminta membantu miss.heart mengoreksi essay anak
kelas satu wajah Nicole masih penasaran.
“Livie, kau tidak bisa membohongiku”
“Apa” kami berjalan menaiki tangga lantai tiga
“Kau hari ini bermake up, menguraikan rambutmu
dan seorang cowok baru seksi menatapmu tanpa berkedip” tuduh Nicole
bersemangat.
Aku
meringis, “ini” aku menujuk wajahku “ulah liv dia menginvasiku diruang makan
karna melihat aku menguncir kuda rambutku dan katanya dia sudah bosan melihatku
begitu dan reyes dia hanya cowok yang menolongku saat kebiasaan tersandungku
terjadi didepannya”. Aku menghilangkan bagian reyes hampir menciumku dikantin
dan kata-kata mengerikannya.
Aku
membentur dada seorang cowok, aku sedikit terpental kebelakang
“Aduh, maaf aku tidak melihatmu,,” suaraku
langsung seperti gumaman ketika reyes Lucien yang aku tabrak.
Seperti
kemarin dia mengunciku dengan tatapannya, ada kemarahan, kekelaman dan
kejahatan dimata almond yang sebelumnya aku anggap indah sekarang terlihat berbahaya. Lalu tanpa berkata apapun
reyes melewatiku begitu saja, Nicole terbengong dengan terbata-bata dia berkata.
“L, kau paham apa yang aku pikirkan” aku
mengangguk. Nicole pasti membayakan sosok mr.hyde dari novel sastra lama yang
memiliki dua kepribadian, baik dan jahat aku bergidik membayangkan betapa
jahatnya mr.hyde.
Dari
sudut koridor yang cukup jauh seseorang memandang cemas kearah livie,
seharusnya ini tidak terjadi, dia tidak punya perasaan apapun pada cewek itu
tapi kenapa saat melihat sisi lain dirinya menatap livie seakan ingin menguluti
cewek itu hidup-hidup sebuah perasaan takut menjalari dirinya.
***
Liv
mondar-mandir disamping kantin kejadian tadi pagi menyita otaknya, tatapan
menakutkan itu seakan berbeda dengan reyes yang kemarin. Itu terlalu jahat
siapa dia sebenarnya reyes Lucien. Lalu aku menabrak seseorang dadanya yang
bidang menbentuk tubuhku.
“Hei, kau” ucapanku menguap ketika orang yang
aku pikirkan berdiri dihadapanku.
“Maaf ucap” reyes datar, liv mengerjap tidak
percaya tadi pagi cowok ini baru saja mengancamnya tapi sekarang dia meminta
maaf hanya karna menabrakku
“Tidak apa-apa, kau mau kemana pulang sekolah
nanti”.
Sejenak
wajah datarnya berubah lalu kembali datar lagi “pulang kerumah saja”
“Kau mau jalan ke squers ada tempat nongkrong
yang ayik disana” aku berusaha menatap matanya tapi kali ini mata reyes tenang
dan misterius, reyes masih terdiam “aku akan mengajak liv” tambahku ekspresinya
berganti terkejut. Reyes tersenyum sedikit menampakan barisan gigi putih yang
rapi. “Hebat temui kami sepulang sekolah
nanti di halaman parkir”.
Dengan
kaku aku berbalik dan berjalan kesayap timur bangunan, berusaha agar tidak
gugup. Sesuatu mengusik pikiran liv, ini bukan reyes yang sama alisnya tertaut
binggung.
“Liv” suara travis menyadarkan lamunanku,
travis mc.kanzie gelandang andalan diteam football sekolah. Dia adalah bintang
lapangan, dipuja seluruh cewek termasuk sahabatku sendiri bree tapi aku menolak
cintanya, travis terus mengejarku hingga sekarang sikapnya selalu baik
kepadaku. Selain itu dia sesungguhnya tidak bodoh seperti teman-temannya yang
baik dia bisa mengerjakan tugas kimia dan menghafal rumus gemotri dengan baik.
“Hei travis” dia mengikuti langkahku “apa kau
ingin ke squers bersamaku kami akan mengadakan pesta disana” ajak travis.
Aku
lalu berhenti berjalan berpikir sejenak sebenarnya aku benci jika bergabung
bersama anak-anak football yang idot itu kecuali travis, tapi aku harus
mengajak travis untuk mengawasi reyes. Dengan anggun aku menaruh tangan
dipundak travis, tubuh travis menegang “sebenarnya aku ingin mengajakmu
bergabung dengan kami di squers nanti, bersama anak-anak lain kau mau” ada
binar bangga dimata travis seakan tidak percaya aku olivianna Cullen
mengajaknya.
Travis
membasahi bibrnya sejenak lalu menatap lurus kemataku “baiklah aku akan datang,
tunggu aku diparkiran” travis melenggang pergi bersemangat sebelum aku sempat
bilang aku akan bersama livie.
Aku
mendekati ruang aula, hari ini mereka sudah mendekor ruang aula untuk bowl nanti, selebaran sudah
dibagikan dan 1 minggu lagi bowl akan diadakan, semalam mom sudah menelpon dan
menanyakan apakah bajuku dan livie mau dipesan diparis karna mom dan dad lagi
disana, tentu saja aku langsung mengiyakannya. Livie dan Nicole duduk dibagian
duduk penonton sedang menggunting kertas warna warni yang dibentuk menyerupai
bunga, aku berjalan kearah mereka.
“Livie” panggilku dari bawah, livie mendongkak
melihatku kaget begitu juga dengan Nicole, sangat jarang aku dan livie
mengobrol disekolah. “Sebentar setelah pulang sekolah kita ke squers” nadaku
lebih seperti memerintah.
“Untuk apa”
“Tentu saja untuk nongkrong disana, oh iya
reyes memintamu datang livie” berbalik tegak kearahku ada tatapan ngeri
dimatanya.
“Aku,,”
“Please” ucapku akhirnya livie menghela nafas
“baiklah”
aku
tersenyum puas lalu aku melemparkannya kunci mobilku, “suruh reyes menyetir,
aku akan bersama travis” aku tahu livie ingin protes tapi aku sudah duluan
pergi.
***
Semobil
bersama reyes, dimobilnya liv yang benar saja. Liv pasti sudah gila. Demi tuhan,
menatap mata reyes lebih dari dua detik saja sudah bisa membuatku menggigil
apalagi bersamanya didalam mobil liv selama lebih dari lima belas menit, aku
bergidik. Tanganku masih menggengam kunci mobil liv kaku.
“Livie, kau tidak apa-apa”
“Aku mengangguk”
“Kau pucat livie, aku akan ke toilet sebenar”
Aku
melangkah cepat kearah toilet yang terletak dibagian samping aula, alarm diriku
berbunyi lagi memperingati untuk tidak pergi bersama reyes tiba-tiba sebuah
tangan kuat menarik lengan kiriku ke lorong barat tempat penyimpanan.
Reyes
menutup mulutku, agar aku tidak berteriak, dia mengisyaratkan untuk diam, aku
mengangguk mengerti. Dia melepaskan tangannya dari mulutku, senyuman ngeri
tersungging.
“Apa yang kau lakukan” tanyaku sedikit
histeris
“Menunggumu”
“Apa”
“Kenapa kau menguraikan rambutmu” reyes
mengusap rambut hitamku hati-hati memainkan ujung rambutku yang ikat, nafasku
sedikit tercekat. Mata pembunuh itu terlihat, sebelumnya berwarna almond
sekarang berwarna hitam pekat ruangan penyimpanan sedikit remang tapi aku yakin
warna matanya hitam seperti rambutku, tangan reyes menyentuh pipiku tubuhku
menggigil dia tersenyum jahat.
“Tidak perlu takut padaku, angel. aku tidak
ingin menyakitimu kakakmu itu sangat menyebalkan, dia membuat penampilanmu
sepertinya yang murahan, aku tidak menyukainya”.
Sesaat
ketakutanku menghilang terganti dengan perasaan untuk melindungi “kalau kau menyakiti liv, aku tidak akan
membiarkanmu” ucapku gemetar. Reyes masih terdiam seakan menikmati setiap
sentuhannya dikulit pipiku.
“Reyes aku,,,” lalu tatapan serius reyes
terpaku padaku seperti sebuah sihir hitam yang melumpuhkan, aku hanya terdiam
menggigil, lututku lemas tapi dengan enteng reyes melingkarkan tangannya di
pinggangku agar tetap berdiri tegak.
Reyes
mendekatkan bibirnya ketelingaku, hembusan nafasnya mengelitik telingaku kali
ini bukan bau aftershave tapi wangi cendana dari tubuhnya “galen itu namaku”
lalu dia mengecup leherku seakan menandai diriku. Aku menahan nafas lama sudah
tiga menit yang lalu cowok bernama galen itu pergi tapi aku masih gemetaran
olehnya auranya sangat menakutkan. Hpku berdering dengan susah payah dan tangan
yang gemetaran aku menjawab.
“Livie, kau dimana”
“Aku,,”
“Livie, kau kenapa”
“Maaf, aku sudah keluar duluan untuk mencari
liv”, bohongku
“Kau yakin kau baik-baik saja” Suara Nicole
khawatir
“Iya, nicky aku akan segera kesana”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar