Senin, 04 Maret 2013

Beautiful Monster part 1



        Livie, ingin seperti cewek remaja pada umumnya tapi bagi livie tidak ada yang biasa saja ketika seluruh kehidupannya berkaitan dengan saudari kembarnya Olivianna atau sering dipanggil oleh seluruh orang disekitarnya Liv. jika livie mengutamakan menjadi siswi biasa di SMA beda dengan Liv yang menjadi siswi popular disekolah mereka. Kehidupan mereka berbeda seratus delapan puluh derajat. Wajah mereka sangat mirip hanya saja rambut Liv dicat cokelat sedangkan Livie membertahankan rambut hitam dari lahirnya. Keadaan berubah sangat cepat saat livie dan Liv menginjak.



        Liv menekan klakson mobil sekali lagi, seharusnya saat ini dia sudah berada disekolah bersama bree dan tina memulai gossip pagi mereka tapi karna harus menunggu livie yang selalu lambat dia pasti tidak akan sempat.
 “Livie apa yang kau lakukan sih” teriak liv dari bangku kemudi.
rok mini dengan baju kemeja yang tambah cardigan hijau membalut tubuh tingginya, rambut liv sepinggang dibiarkan terurai, hasil blow sejak pagi telah membuatnya terlihat indah dibawah sinar matahari pagi, bibirnya dipoles lipstic berwarna peer, mascara hitam menambah keeksotisan wajah cantiknya. Baru bebarapa menit kemudia livie keluar dengan terburu-buru rambut dikuncir ekor kuda, tshirt dan celana jeans menjadi andalannya.
 “Ayo kita jalan”
livie menghempaskan tubuhnya dikursi sebelah sambil merapikan tumpukan buku dipelukannya. Liv hanya menggeleng kepala tidak percaya kalau yang duduk disebelahnya adalah saudari kembarnya.
Mereka berdua tiba di sekolah sedikit telat, halaman parkiran telah sepi.
 “Hebat livie karena dirimu aku terlambat” livie tahu apa arti kata itu artinya kesempatan Liv untuk memamerkan dirinya didepan umum tertunda hingga makan siang, boot tinggi liv terdengar memenuhi ruangan, liv mencoba menyesuaikan jalannya. Bukan hal yang baru jika liv akan mengabaikan livie dengan bawaanya, livie tidak akan repot-repot mengambil separuh buku ditangannya, mungkin saja saudari kembarnya itu sudah pergi duluan kekelasnya.
Susah payah livie melangkah, berhati-hati agar buku-buku yang dipegangnya tidak jatuh sial, kalau bukan karna miss.heart yang menyuruhnya dia tidak akan mau membawa semua buku-buku ini.
 “Sepertinya kau butuh bantuan”
sebuah suara asing memenuhi koridor sekolah.
 “Oh, tidak apa aku bisa” tapi seperti biasa livie tersandung kakinya sendiri tapi kali ini sebuah tangan kuat memegang kedua sikunya dari belakang, menariknya membentur dada keras cowok itu semua buku terhambur dihadapannya. Livie menarik nafas lega setidaknya dia tidak jatuh.
 “Kau tidak apa-apa” Tanya cowok itu khawatir.
Perlahan livie berbalik cowok itu masih memegang sikunya kuat. Sebuah mata cokelat almond menatap tegas livie, rambut hitam yang sedikit acak-acakan, kulit berwarna perunggu yang memikat dengan garis wajah tegas namun misterius yang menggoda, bau parfum aftershave dari tubuh cowok itu. Kaki livie lemas untung saja cowok itu masih memegang lengannya kuat.
Livie mengerjap lagi sambil mendorong kaca mata minusnya yang sedikit merosot
 “kau siapa” susah payah livie mengumpulkan kesadarannya dari hipnotis si cowok.
 “Lucien, reyes Lucien” katanya tenang, livie menggerakan tangannya mencoba membebaskan diri tapi reyes semakin mengencangkan cengkramannya sampai livie sedikit merintih baru reyes buru-buru melepasnya.
 “Olivia Cullen, aku tidak pernah melihat kau sebelumnya” livie memungut buku-bukunya, dia sudah terlambat untuk pelajaran sejarah dunia, reyes mengikuti gerakannya berjongkok dipinggir livie sambil memungut dua buku sastra anais nin.
 “Aku baru pindah, dan sedang mencari locker dan kelas pertamaku tapi sepertinya aku tersesat” mata reyes menatap tajam Olivia.
 “Aneh sekali biasanya mrs. Betty akan mengantarmu kekelas, coba aku liat kertasmu” Olivia mengambil kertas catatan locker dan jadwalnya. “seharusnya lockermu tepat diujung sana” livie menunjuk locker terakhir dari barisannya, “dan sepertinya kau harus mengikuti jam kedua, mr. hayes bukanlah orang yang ramah untuk siswa yang terlambat” Olivia masih merasa tatapan intens reyes tapi dia mengabaikannya.
 Reyes mengangguk “jadi, sepertinya kau juga melewatkan jam pertamamu Olivia” mendengar namanya dipanggil reyes membuat tubuh livie seperti tersiram berton-ton air dingin yang menyejukan.
 Livie berhasil mengangkat buku terakhir kedekapannya, “yeah, aku akan keruangan mr. Collins saja” buru-buru livie meninggalkan reyes, livie berdoa dalam hati semoga reyes tidak mengikutinya. Ada sesuatu, cara tatapan reyes yang membuat livie merinding.


***
        Hape Liv bergetar dari saku kardigannya, Mr. penguin begitu julukan dia dan ganknya untuk Mr. slavenski yang culun sedang menerangkan tentang bahaya pemanasan global.
 “Bree: Liv, ada siswa baru dari spanyol” Liv memanyunkan bibirnya kalau bukan karna Livie dia pasti sudah melihat sendiri cowok baru itu.
 Liv membalas “kau sudah melihatnya” Liv menekan send lalu melempar tatapan penasaran pada Bree dan tina yang balik beradu pandang sambil tersenyum rahasia.
Sms dari tina membuat mulut Liv berbentuk O tidak percaya
 “Tina: kami juga belum melihat sepertinya dia terlambat datang, aku dan bree menunggunya dihalaman parkir tapi cowok spanyol itu tidak muncul” sekarang senyuman liv mengembang setidaknya belum ada diantara mereka yang melihat cowok itu.
 Bree juga mengirim sms “bagaimana kau bisa terlambat Liv”
Dengusan liv terdengar, lalu dia berbalik kearah dua sahabatnya itu lalu berkata Livie, kedua sahabatnya itu memutar bola mata sakratis.
        Bree dan tina tidak pernah akrab dengan livie bahkan dulu mereka selalu bertanya apakah livie dan liv benar saudara kembar, siapa yang menyangka cewek pencinta novel roman, ketua club sastra, cewek berkaca mata minus dengan pakaian sederhana itu adalah kembarannya. Tentu saja itu menjadi tanda Tanya besar, Liv sendiri tidak pernah berpikir kenapa dia dan Livie sangat berbeda tapi yang dia tahu Livie menyayanginya sebesar dia juga menyayangi livie juga tapi tentu saja dalam hal-hal tertentu seperti gaya dan pergaulan Liv tidak akan mau melibatkan Livie dia terlalu kuper. Liv bergidik tidak dengan pemikirannya, bagiamana dengan spring bowl nanti, nasib livie sangat tragis.
        Bell jam pertama berbunyi, lalu liv, bree dan tina mulai melakukan pencarian sang cowok spanyol, berjalan berlahan-lahan dikoridor sambil menatap siswa yang memenuhi koridor, tina menyikut pelan tangan liv
 “lihat travis terus menatapmu” sebelah alis liv terangat, tentu saja seluruh cowok memujanya walaupun dia bukan ketua team cheer sekolah predikat queen bee ada padanya.
 “Hei, liv” travis menghampirinya “kau mau kekantin bersamaku” liv melirik kedua sahabatnya sambil tersenyum sinis.
 “Maaf travis tidak hari ini, aku lagi sibuk” lalu liv melewati travis begitu saja, mereka menuju kantin sekolah, meja makan mereka tetap kosong. Bree mencengkram tangan liv kuat membuat liv memplototinya kesal.
 “Arah jam sepuluh liv, itu dia” tanpa menunggu liv berbalik sambil melihat kepintu masuk utara kantin seorang cowok spanyol bermata almond, kemeja biru Gucci melekat pas dibadannya, mike meyer berjalan disampingnya, senyuman setengah cowok itu sudah cukup membuat liv yakin untuk pergi keacara spring bowl nanti bersamanya.
 “Ayo girls” komando liv lalu melangkah cepat kerah kedua cowok itu, “hei mike” liv mempermanis suaranya dia yakin penampilannya sudah bisa memikat si cowok spanyol ini.
Perhatian cowok itu teralih menatap liv tanpa berpaling, “kau pasti anak baru itu kan kenalkan aku olivianna Cullen” ucap liv lembut.
 “Hello liv, kenalkan ini reyes Lucien dia baru pindah dari spanyol” kata mike bersemangat tapi liv tidak perduli, liv melingkar tangannya dilengan kanan reyes cepat, aku tahu mike.
 “Salam kenal reyes, duduklah dengan kami” bree dan tina mengangguk setuju.


***
        Livie mengambil apel dan air mineral, dia memang tidak bisa minum minuman soda, lalu mengangkat napannya mencari meja yang masih tersisa, livie memindai ruangan dengan cepat jika tidak dia bakalan ditertawai siswa yang menatapnya. Nicole tidak masuk hari ini, dia merawat ibunya yang lagi sakit. Sial, seharusnya aku melewatkan makan siangku saja runtuk livie dalam hati, dia sudah memindai setengah ruangan ketika tatapannya jatuh pada saudari kembarnya liv yang sedang mengeliat genit ditangan reyes, sialnya liv tahu kemana mereka akan duduk. Meja kosong dihadapanya adalah singgasana liv dan teman-temannya. Livie sudah memundur perlahan mencoba berbalik tapi suara reyes sudah membuatnya membeku.
 “Olivia” katanya pelan tetapi sanggup membuat seluruh ruangan berhenti beraktivitas dan menatap livie.
 “Olivia kan” sepertinya reyes sudah berhasil lepas dari liv sekarang dia berdiri tepat dibelakangku.
Livie masih tidak berani berbalik, “hei, aku ada urusan jadi aku akan pergi” ya ampun aku sungguh pengecut keluh livie dalam hati tapi. Seperti biasa ketika dia tersandung kakinya sendiri dan kalau bukan karna reyes yang menarik kedua sikunya pasti saat ini wajahnya sudah membentur lantai kantin.
Tubuh hangat reyes terasa dibelakang livie, jantung livie berpacu kencang, “kau harus berhenti melakukannya jika kita bertemu” nafas hangat reyes membelai telinga kiri livie, reyes pasti sedikit menunduk untuk berbisik.
 “Livie” suara datar liv membuyarkan lamunan livie, sekarang dia dan liv berhadap-hadapan wajah liv sudah merah padam karna malu dan kesal.
 “Sudah aku bilang untuk berhati-hati tapi kau tetap saja ceroboh, bagaimana kalau kau jatuh” omel liv.
 “Maaf, kau tahu aku ,,”
 “Sudalah” potong liv “ayo, reyes kita keluar dari kantin dan biarkan livie menikmati makan siangnya, aku tidak ingin saudari kembarku sakit karna melewatkan makan siangnya” liv menekan setiap kalimat lalu menatapku dengan isyarat menjauhi reyes.
Mengalah bukanlah pilihan pikir livie pasrah “aku baik-baik saja reyes, kau bisa melepaskanku sekarang” livie menyentuh lengan reyes, perlahan reyes mengendurkan pegangannya lalu membiarkan livie berdiri dengan napan ditangannya.
 “Aku akan menemanimu makan livie” kata reyes tidak peduli betapa syok liv, dia mengambil nampan livie lalu duduk di tempat liv santai. Aku menatap liv binggung lalu liv menghentakan kakinya kesal dan pergi. Semenit kemudian terdengar bisik-bisik diseluruh kantin, terimalah liv kau akan dianggap pengganggu liv saat ini.
 “Olivia” panggil reyes nadanya masih datar dan memerintah, aku menghela nafas lalu duduk disamping reyes.
 “Kalian sepertinya tidak akur”
 “Bukan urusanmu” balasku dingin.
reyes tersenyum tidak peduli, dia menggigit apel tenang.
 “Aku tidak tertarik sama saudarimu itu, jadi katakan padanya jangan membuang waktunya untukku” aku menatap reyes tidak percaya.
 “Kau,,,”
 “Aku lebih tertarik padamu” mulut liv membentuk huruf o reyes menarik livie mendekat kearahya, matanya mengunci mata livie.
 “Re,,reyes” suara livie mengecil lalu bunyi bell berbunyi dengan sekuat tenaga livie mendorong reyes dan melarikan diri dari cowok itu.

***
        Liv melihat adegan itu, reyes menarik livie hampir menciumnya ada sebuah percikan rasa cemburu dan kekalahan dalam dadanya. Ok, mungkin livie selalu menang dalam hal prestasi tapi menyangkut cowok itu seharusnya itu aku bukan livie, aku seratus kali lebih menarik darinya tentu saja tanpa kacamata minus dan tshirt murahan. Apa yang terjadi sebenarnya reyes mengenal livie tapi dimana, kapan dan bagaimana. Kenapa livie tidak pernah menceritakannya padaku, well tentu saja livie tidak pernah cerita apapun kepadamu liv dia selalu menganggap semua cowok adalah normal, liv menyela dirinya sendiri
 “Hei liv, kali ini adikmu lebih cepat darimu” tina membuyarkan lamunannya, mata liv menatapnya tajam senyuman tina menghilang.
 “Adikku tidak menyukai cowok seperti itu percayalah reyes akhirnya akan menyukaiku setelah bosan dengan livie, apa yang akan dibahas mereka roman romeo dan Juliet” liv berusaha mengabaikan kekhawatirannya
 Bree melipat tangan sambil bersandar disalah satu pilar lorong “wah, liv sang optimis” ejek bree, liv mendengus tidak peduli.
 “Aku tahu apa yang harus aku perbuat girls, dan reyes akan mengajakku ke pesta nanti” senyuman licik liv mengembang.

Bell pelajaran terakhir berbunyi, seluruh siswa haven highschool memenuhi lorong sekolah, liv, bree dan tina melangkah santai ditengah koridor yang padat.
 “Apakah malam ini kita akan ke squer untuk berbelanja” Tanya tina, bree mengangkat bahu sambil menatap liv bertanya.
 “Aku tidak bisa, mom dan dad belum kembali dari eropa dan aku yakin si renta james tidak akan membiarkan aku keluar”.
James adalah pelayan rumah mereka sebelum dia dan livie lahir james sudah bekerja untuk orang tuanya, dia bertugas mengurusi semua hal dirumah mereka dan sejak orang tuanya melakukan perjalanan bisnis di eropa james diberi tanggung jawab untuk menjaga dia dan livie.
 “Kau yakin liv, biasanya kau akan mengendap keluar rumah” Tanya tina, otomatis liv berbalik dengan tatapan kesal dia.
 “kau ingat dua bulan lalu saat aku melarikan diri dari rumah saat mom tidak ada” mereka berdua mengangguk, “dad tahu lalu memberikanku hukuman sekali lagi aku keluar diam-diam bmw kesayanganku disita” saat ini kami bertiga sudah mencapai parkiran yang ramai.
 “Baiklah kalau begitu” ucap bree sambil member isyarat kearah mobil liv.
Liv setengah tersenyum melihat livie sudah berdiri disamping mobil sambil menunggunya, “sampai nanti teman pekerjaan baby sitter menungguku” teriak liv lalu berlari kearah mobilnya.
 “Aku heran kenapa kau tidak ingin membeli mobil sendiri” tatapan liv mengintimidasi, livie tertunduk sejenak lalu liv membuka kunci mobil dan duduk didalam mobil santai.
livie membuka pintu mobil “kau tahu aku sangat payah dalam menyetir”.
 “Huh” ejekku “bayangkan Olivia yang jenius tidak bisa menyetir mobil dengan baik” lanjut liv tapi livie tetap diam.

Mereka melewati jalan-jalan yang cukup padat, liv menyetel music one direction suara zayn terdengar merdu, liv ikut bernyanyi.
 “Tentang kejadian yang tadi siang” livie membuka percakapan, sedetik tubuhku menegang tapi aku berusaha bersikap normal “aku benar-benar minta maaf, seharusnya reyes tidak,,,”
 “Dimana kau mengenalnya” sela ku cepat sebelum penjelasan panjang dan berbelit-belit livie.
Dia mendongkak kearahku sebentar lalu menarik nafas “dia membantuku ketika aku tersandung dikoridor pagi tadi” jelas livie biasa.
Aku menantap livie sebentar, ingin berteriak kearahnya apakah kau liat betapa tampannya dia dan kau hanya bereaksi senormal itu, apakah kau sudah gila livie, tapi yang keluar dari bibirku adalah “oh, begitu seharusnya tadi pagi aku tidak meninggalkanmu cepat” Livie tersenyum.

***
        Aku tidak bisa tidur, wajah reyes bermain-main dibenakku, matanya dan aroma aftershave yang harum memenuhi pikiranku, lalu aku terduduk kesal, ya ampun livie kau ini kenapa hanya karna dia mengatakan dia tertarik padamu kau terlihat begitu gelisah. Bagaimana kalau liv tahu dia bisa marah besar aku memijiat kepalaku sebenar lalu melirik laptopku yang masih menyala.

        Aku membuka situs sekolah, seharusnya sekarang dia sudah terdaftar dalam pertemanan sekolah dan dugaanku benar, profil reyes memenuhi layar. Aku meneliti playlistnya dahiku berkerut, frank Sinatra gumamku tidak percaya, lalu tiba-tiba mataku terbelalak saat membaca tulisannya
“your black hair is like darkest night, your eyes more intoxication then drugs, I will drag you in to my hell until you know I’m the devil” sekujur tubuhku menggigil, lalu terbayang tatapan intens reyes siang tadi, lalu aku kembali ke tempat tidur menyelimuti diriku.

        Aku tidak menyadari sebuah bayangan hitam yang berdiri diluar jendela disamping pohon cemara, menatap lurus kearah jendelaku yang tidak aku tutup tirainya, dia tersenyum dalam kegelapan seakan puas melihat diriku yang sudah kembali tertidur lalu dia mulai melompati pagar dan menghilang dikegelapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar