Livie, ingin seperti cewek remaja pada
umumnya tapi bagi livie tidak ada yang biasa saja ketika seluruh kehidupannya
berkaitan dengan saudari kembarnya Olivianna atau sering dipanggil oleh seluruh
orang disekitarnya Liv. jika livie mengutamakan menjadi siswi biasa di SMA beda
dengan Liv yang menjadi siswi popular disekolah mereka. Kehidupan mereka
berbeda seratus delapan puluh derajat. Wajah mereka sangat mirip hanya saja
rambut Liv dicat cokelat sedangkan Livie membertahankan rambut hitam dari
lahirnya. Keadaan berubah sangat cepat saat livie dan Liv menginjak.
Liv
menekan klakson mobil sekali lagi, seharusnya saat ini dia sudah berada
disekolah bersama bree dan tina memulai gossip pagi mereka tapi karna harus
menunggu livie yang selalu lambat dia pasti tidak akan sempat.
“Livie apa yang kau lakukan sih” teriak liv
dari bangku kemudi.
rok
mini dengan baju kemeja yang tambah cardigan hijau membalut tubuh tingginya,
rambut liv sepinggang dibiarkan terurai, hasil blow sejak pagi telah membuatnya
terlihat indah dibawah sinar matahari pagi, bibirnya dipoles lipstic berwarna
peer, mascara hitam menambah keeksotisan wajah cantiknya. Baru bebarapa menit
kemudia livie keluar dengan terburu-buru rambut dikuncir ekor kuda, tshirt dan
celana jeans menjadi andalannya.
“Ayo kita jalan”
livie
menghempaskan tubuhnya dikursi sebelah sambil merapikan tumpukan buku
dipelukannya. Liv hanya menggeleng kepala tidak percaya kalau yang duduk
disebelahnya adalah saudari kembarnya.
Mereka
berdua tiba di sekolah sedikit telat, halaman parkiran telah sepi.
“Hebat livie karena dirimu aku terlambat”
livie tahu apa arti kata itu artinya kesempatan Liv untuk memamerkan dirinya
didepan umum tertunda hingga makan siang, boot tinggi liv terdengar memenuhi
ruangan, liv mencoba menyesuaikan jalannya. Bukan hal yang baru jika liv akan
mengabaikan livie dengan bawaanya, livie tidak akan repot-repot mengambil
separuh buku ditangannya, mungkin saja saudari kembarnya itu sudah pergi duluan
kekelasnya.
Susah
payah livie melangkah, berhati-hati agar buku-buku yang dipegangnya tidak jatuh
sial, kalau bukan karna miss.heart yang menyuruhnya dia tidak akan mau membawa
semua buku-buku ini.
“Sepertinya kau butuh bantuan”
sebuah
suara asing memenuhi koridor sekolah.
“Oh, tidak apa aku bisa” tapi seperti biasa
livie tersandung kakinya sendiri tapi kali ini sebuah tangan kuat memegang
kedua sikunya dari belakang, menariknya membentur dada keras cowok itu semua
buku terhambur dihadapannya. Livie menarik nafas lega setidaknya dia tidak
jatuh.
“Kau tidak apa-apa” Tanya cowok itu khawatir.
Perlahan
livie berbalik cowok itu masih memegang sikunya kuat. Sebuah mata cokelat
almond menatap tegas livie, rambut hitam yang sedikit acak-acakan, kulit
berwarna perunggu yang memikat dengan garis wajah tegas namun misterius yang
menggoda, bau parfum aftershave dari tubuh cowok itu. Kaki livie lemas untung
saja cowok itu masih memegang lengannya kuat.
Livie
mengerjap lagi sambil mendorong kaca mata minusnya yang sedikit merosot
“kau siapa” susah payah livie mengumpulkan
kesadarannya dari hipnotis si cowok.
“Lucien, reyes Lucien” katanya tenang, livie
menggerakan tangannya mencoba membebaskan diri tapi reyes semakin mengencangkan
cengkramannya sampai livie sedikit merintih baru reyes buru-buru melepasnya.
“Olivia Cullen, aku tidak pernah melihat kau
sebelumnya” livie memungut buku-bukunya, dia sudah terlambat untuk pelajaran
sejarah dunia, reyes mengikuti gerakannya berjongkok dipinggir livie sambil
memungut dua buku sastra anais nin.
“Aku baru pindah, dan sedang mencari locker
dan kelas pertamaku tapi sepertinya aku tersesat” mata reyes menatap tajam
Olivia.
“Aneh sekali biasanya mrs. Betty akan
mengantarmu kekelas, coba aku liat kertasmu” Olivia mengambil kertas catatan
locker dan jadwalnya. “seharusnya lockermu tepat diujung sana” livie menunjuk
locker terakhir dari barisannya, “dan sepertinya kau harus mengikuti jam kedua,
mr. hayes bukanlah orang yang ramah untuk siswa yang terlambat” Olivia masih
merasa tatapan intens reyes tapi dia mengabaikannya.
Reyes mengangguk “jadi, sepertinya kau juga
melewatkan jam pertamamu Olivia” mendengar namanya dipanggil reyes membuat
tubuh livie seperti tersiram berton-ton air dingin yang menyejukan.
Livie berhasil mengangkat buku terakhir
kedekapannya, “yeah, aku akan keruangan mr. Collins saja” buru-buru livie
meninggalkan reyes, livie berdoa dalam hati semoga reyes tidak mengikutinya.
Ada sesuatu, cara tatapan reyes yang membuat livie merinding.
***
Hape
Liv bergetar dari saku kardigannya, Mr. penguin begitu julukan dia dan ganknya
untuk Mr. slavenski yang culun sedang menerangkan tentang bahaya pemanasan
global.
“Bree: Liv, ada siswa baru dari spanyol” Liv
memanyunkan bibirnya kalau bukan karna Livie dia pasti sudah melihat sendiri
cowok baru itu.
Liv membalas “kau sudah melihatnya” Liv
menekan send lalu melempar tatapan penasaran pada Bree dan tina yang balik
beradu pandang sambil tersenyum rahasia.
Sms
dari tina membuat mulut Liv berbentuk O tidak percaya
“Tina: kami juga belum melihat sepertinya dia terlambat
datang, aku dan bree menunggunya dihalaman parkir tapi cowok spanyol itu tidak
muncul” sekarang senyuman liv mengembang setidaknya belum ada diantara mereka
yang melihat cowok itu.
Bree juga mengirim sms “bagaimana kau bisa
terlambat Liv”
Dengusan
liv terdengar, lalu dia berbalik kearah dua sahabatnya itu lalu berkata Livie,
kedua sahabatnya itu memutar bola mata sakratis.
Bree
dan tina tidak pernah akrab dengan livie bahkan dulu mereka selalu bertanya
apakah livie dan liv benar saudara kembar, siapa yang menyangka cewek pencinta
novel roman, ketua club sastra, cewek berkaca mata minus dengan pakaian
sederhana itu adalah kembarannya. Tentu saja itu menjadi tanda Tanya besar, Liv
sendiri tidak pernah berpikir kenapa dia dan Livie sangat berbeda tapi yang dia
tahu Livie menyayanginya sebesar dia juga menyayangi livie juga tapi tentu saja
dalam hal-hal tertentu seperti gaya dan pergaulan Liv tidak akan mau melibatkan
Livie dia terlalu kuper. Liv bergidik tidak dengan pemikirannya, bagiamana
dengan spring bowl nanti, nasib livie sangat tragis.
Bell
jam pertama berbunyi, lalu liv, bree dan tina mulai melakukan pencarian sang
cowok spanyol, berjalan berlahan-lahan dikoridor sambil menatap siswa yang
memenuhi koridor, tina menyikut pelan tangan liv
“lihat travis terus menatapmu” sebelah alis
liv terangat, tentu saja seluruh cowok memujanya walaupun dia bukan ketua team
cheer sekolah predikat queen bee ada padanya.
“Hei, liv” travis menghampirinya “kau mau
kekantin bersamaku” liv melirik kedua sahabatnya sambil tersenyum sinis.
“Maaf travis tidak hari ini, aku lagi sibuk”
lalu liv melewati travis begitu saja, mereka menuju kantin sekolah, meja makan
mereka tetap kosong. Bree mencengkram tangan liv kuat membuat liv memplototinya
kesal.
“Arah jam sepuluh liv, itu dia” tanpa menunggu
liv berbalik sambil melihat kepintu masuk utara kantin seorang cowok spanyol
bermata almond, kemeja biru Gucci melekat pas dibadannya, mike meyer berjalan
disampingnya, senyuman setengah cowok itu sudah cukup membuat liv yakin untuk
pergi keacara spring bowl nanti bersamanya.
“Ayo girls” komando liv lalu melangkah cepat
kerah kedua cowok itu, “hei mike” liv mempermanis suaranya dia yakin
penampilannya sudah bisa memikat si cowok spanyol ini.
Perhatian
cowok itu teralih menatap liv tanpa berpaling, “kau pasti anak baru itu kan
kenalkan aku olivianna Cullen” ucap liv lembut.
“Hello liv, kenalkan ini reyes Lucien dia baru
pindah dari spanyol” kata mike bersemangat tapi liv tidak perduli, liv
melingkar tangannya dilengan kanan reyes cepat, aku tahu mike.
“Salam kenal reyes, duduklah dengan kami” bree
dan tina mengangguk setuju.
***
Livie
mengambil apel dan air mineral, dia memang tidak bisa minum minuman soda, lalu
mengangkat napannya mencari meja yang masih tersisa, livie memindai ruangan
dengan cepat jika tidak dia bakalan ditertawai siswa yang menatapnya. Nicole
tidak masuk hari ini, dia merawat ibunya yang lagi sakit. Sial, seharusnya aku
melewatkan makan siangku saja runtuk livie dalam hati, dia sudah memindai
setengah ruangan ketika tatapannya jatuh pada saudari kembarnya liv yang sedang
mengeliat genit ditangan reyes, sialnya liv tahu kemana mereka akan duduk. Meja
kosong dihadapanya adalah singgasana liv dan teman-temannya. Livie sudah
memundur perlahan mencoba berbalik tapi suara reyes sudah membuatnya membeku.
“Olivia” katanya pelan tetapi sanggup membuat
seluruh ruangan berhenti beraktivitas dan menatap livie.
“Olivia kan” sepertinya reyes sudah berhasil
lepas dari liv sekarang dia berdiri tepat dibelakangku.
Livie
masih tidak berani berbalik, “hei, aku ada urusan jadi aku akan pergi” ya ampun
aku sungguh pengecut keluh livie dalam hati tapi. Seperti biasa ketika dia
tersandung kakinya sendiri dan kalau bukan karna reyes yang menarik kedua
sikunya pasti saat ini wajahnya sudah membentur lantai kantin.
Tubuh
hangat reyes terasa dibelakang livie, jantung livie berpacu kencang, “kau harus
berhenti melakukannya jika kita bertemu” nafas hangat reyes membelai telinga
kiri livie, reyes pasti sedikit menunduk untuk berbisik.
“Livie” suara datar liv membuyarkan lamunan
livie, sekarang dia dan liv berhadap-hadapan wajah liv sudah merah padam karna
malu dan kesal.
“Sudah aku bilang untuk berhati-hati tapi kau
tetap saja ceroboh, bagaimana kalau kau jatuh” omel liv.
“Maaf, kau tahu aku ,,”
“Sudalah” potong liv “ayo, reyes kita keluar
dari kantin dan biarkan livie menikmati makan siangnya, aku tidak ingin saudari
kembarku sakit karna melewatkan makan siangnya” liv menekan setiap kalimat lalu
menatapku dengan isyarat menjauhi reyes.
Mengalah
bukanlah pilihan pikir livie pasrah “aku baik-baik saja reyes, kau bisa
melepaskanku sekarang” livie menyentuh lengan reyes, perlahan reyes
mengendurkan pegangannya lalu membiarkan livie berdiri dengan napan ditangannya.
“Aku akan menemanimu makan livie” kata reyes
tidak peduli betapa syok liv, dia mengambil nampan livie lalu duduk di tempat
liv santai. Aku menatap liv binggung lalu liv menghentakan kakinya kesal dan
pergi. Semenit kemudian terdengar bisik-bisik diseluruh kantin, terimalah liv
kau akan dianggap pengganggu liv saat ini.
“Olivia” panggil reyes nadanya masih datar dan
memerintah, aku menghela nafas lalu duduk disamping reyes.
“Kalian sepertinya tidak akur”
“Bukan urusanmu” balasku dingin.
reyes
tersenyum tidak peduli, dia menggigit apel tenang.
“Aku tidak tertarik sama saudarimu itu, jadi
katakan padanya jangan membuang waktunya untukku” aku menatap reyes tidak
percaya.
“Kau,,,”
“Aku lebih tertarik padamu” mulut liv
membentuk huruf o reyes menarik livie mendekat kearahya, matanya mengunci mata
livie.
“Re,,reyes” suara livie mengecil lalu bunyi
bell berbunyi dengan sekuat tenaga livie mendorong reyes dan melarikan diri
dari cowok itu.
***
Liv
melihat adegan itu, reyes menarik livie hampir menciumnya ada sebuah percikan
rasa cemburu dan kekalahan dalam dadanya. Ok, mungkin livie selalu menang dalam
hal prestasi tapi menyangkut cowok itu seharusnya itu aku bukan livie, aku
seratus kali lebih menarik darinya tentu saja tanpa kacamata minus dan tshirt
murahan. Apa yang terjadi sebenarnya reyes mengenal livie tapi dimana, kapan
dan bagaimana. Kenapa livie tidak pernah menceritakannya padaku, well tentu
saja livie tidak pernah cerita apapun kepadamu liv dia selalu menganggap semua
cowok adalah normal, liv menyela dirinya sendiri
“Hei liv, kali ini adikmu lebih cepat darimu”
tina membuyarkan lamunannya, mata liv menatapnya tajam senyuman tina menghilang.
“Adikku tidak menyukai cowok seperti itu
percayalah reyes akhirnya akan menyukaiku setelah bosan dengan livie, apa yang
akan dibahas mereka roman romeo dan Juliet” liv berusaha mengabaikan
kekhawatirannya
Bree melipat tangan sambil bersandar disalah
satu pilar lorong “wah, liv sang optimis” ejek bree, liv mendengus tidak peduli.
“Aku tahu apa yang harus aku perbuat girls,
dan reyes akan mengajakku ke pesta nanti” senyuman licik liv mengembang.
Bell
pelajaran terakhir berbunyi, seluruh siswa haven highschool memenuhi lorong
sekolah, liv, bree dan tina melangkah santai ditengah koridor yang padat.
“Apakah malam ini kita akan ke squer untuk
berbelanja” Tanya tina, bree mengangkat bahu sambil menatap liv bertanya.
“Aku tidak bisa, mom dan dad belum kembali
dari eropa dan aku yakin si renta james tidak akan membiarkan aku keluar”.
James
adalah pelayan rumah mereka sebelum dia dan livie lahir james sudah bekerja
untuk orang tuanya, dia bertugas mengurusi semua hal dirumah mereka dan sejak
orang tuanya melakukan perjalanan bisnis di eropa james diberi tanggung jawab
untuk menjaga dia dan livie.
“Kau yakin liv, biasanya kau akan mengendap
keluar rumah” Tanya tina, otomatis liv berbalik dengan tatapan kesal dia.
“kau ingat dua bulan lalu saat aku melarikan
diri dari rumah saat mom tidak ada” mereka berdua mengangguk, “dad tahu lalu
memberikanku hukuman sekali lagi aku keluar diam-diam bmw kesayanganku disita”
saat ini kami bertiga sudah mencapai parkiran yang ramai.
“Baiklah kalau begitu” ucap bree sambil member
isyarat kearah mobil liv.
Liv
setengah tersenyum melihat livie sudah berdiri disamping mobil sambil
menunggunya, “sampai nanti teman pekerjaan baby sitter menungguku” teriak liv
lalu berlari kearah mobilnya.
“Aku heran kenapa kau tidak ingin membeli
mobil sendiri” tatapan liv mengintimidasi, livie tertunduk sejenak lalu liv
membuka kunci mobil dan duduk didalam mobil santai.
livie
membuka pintu mobil “kau tahu aku sangat payah dalam menyetir”.
“Huh” ejekku “bayangkan Olivia yang jenius
tidak bisa menyetir mobil dengan baik” lanjut liv tapi livie tetap diam.
Mereka
melewati jalan-jalan yang cukup padat, liv menyetel music one direction suara
zayn terdengar merdu, liv ikut bernyanyi.
“Tentang kejadian yang tadi siang” livie
membuka percakapan, sedetik tubuhku menegang tapi aku berusaha bersikap normal “aku
benar-benar minta maaf, seharusnya reyes tidak,,,”
“Dimana kau mengenalnya” sela ku cepat sebelum
penjelasan panjang dan berbelit-belit livie.
Dia
mendongkak kearahku sebentar lalu menarik nafas “dia membantuku ketika aku
tersandung dikoridor pagi tadi” jelas livie biasa.
Aku
menantap livie sebentar, ingin berteriak kearahnya apakah kau liat betapa
tampannya dia dan kau hanya bereaksi senormal itu, apakah kau sudah gila livie,
tapi yang keluar dari bibirku adalah “oh, begitu seharusnya tadi pagi aku tidak
meninggalkanmu cepat” Livie tersenyum.
***
Aku
tidak bisa tidur, wajah reyes bermain-main dibenakku, matanya dan aroma
aftershave yang harum memenuhi pikiranku, lalu aku terduduk kesal, ya ampun
livie kau ini kenapa hanya karna dia mengatakan dia tertarik padamu kau
terlihat begitu gelisah. Bagaimana kalau liv tahu dia bisa marah besar aku
memijiat kepalaku sebenar lalu melirik laptopku yang masih menyala.
Aku
membuka situs sekolah, seharusnya sekarang dia sudah terdaftar dalam pertemanan
sekolah dan dugaanku benar, profil reyes memenuhi layar. Aku meneliti
playlistnya dahiku berkerut, frank Sinatra gumamku tidak percaya, lalu
tiba-tiba mataku terbelalak saat membaca tulisannya
“your
black hair is like darkest night, your eyes more intoxication then drugs, I
will drag you in to my hell until you know I’m the devil” sekujur tubuhku
menggigil, lalu terbayang tatapan intens reyes siang tadi, lalu aku kembali ke
tempat tidur menyelimuti diriku.
Aku
tidak menyadari sebuah bayangan hitam yang berdiri diluar jendela disamping
pohon cemara, menatap lurus kearah jendelaku yang tidak aku tutup tirainya, dia
tersenyum dalam kegelapan seakan puas melihat diriku yang sudah kembali
tertidur lalu dia mulai melompati pagar dan menghilang dikegelapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar